was successfully added to your cart.

Deforestasi di Dunia

Masyarakat dan ekonomi global terkait erat dengan hutan. Lebih dari 1 miliar manusia bergantung pada hutan untuk mata pencaharian mereka. Ekosistem hutan memainkan peran penting dalam menstabilkan iklim; menyediakan makanan, air, produk kayu, dan obat-obatan; serta mendukung keanekaragaman hayati dunia.

Meskipun terjadi penurunan laju deforestasi di beberapa wilayah, namun ekosistem hutan masih berada dalam ancaman besar. Menurut penelitian baru-baru ini, 30 persen tutupan hutan global telah hilang, sementara 20 persen lainnya telah terdegradasi. Sebagian besar sisanya telah terfragmentasi, hanya menyisakan sekitar 15 persen yang masih utuh.

Deforestasi di Indonesia

Indonesia merupakan negara dengan kawasan hutan yang paling luas di dunia. Hampir 40 persen dari daratan Indonesia tertutup hutan. Namun keadaan tersebut berubah dengan cepat diakibatkan oleh konversi lahan menjadi perkebunan. Lebih dari 10% dari tutupan hutan kini telah diubah menjadi perkebunan.

Arahkan kursor ke atas untuk berinteraksi dengan Peta Hutan Indonesia ini untuk menemukan tingkat kehilangan dan perolehan hutan di Indonesia selama 15 tahun terakhir:

Deforestasi, Keanekaragaman Hayati, dan Perubahan Iklim

Deforestasi, baik yang disebabkan oleh perubahan lahan menjadi perkebunan, kebutuhan pembangunan infrastruktur, pengembangan permukiman rakyat dan sebab-sebab lainnya memiliki dampak besar pada keanekaragaman hayati. Pemerintah dan masyarakatpun masih menempatkan isu keanekaragaman hayati jauh dari perhatian utama. Padahal manfaat dari keanekaragaman hayati sangat besar bagi manusia. Beberapa dari manfaat tersebut antara lain di bidang pertanian yang dapat meningkatkan ketahanan terhadap wabah penyakit; di bidang kesehatan manusia; bisnis dan industri; kenyamanan, budaya, dan nilai estetika yang tentunya berguna untuk mendukung pariwisata serta meningkatkan pendapatan bagi masyarakat; serta jasa ekologi lainnya. Hilangnya beberapa manfaat tersebut akan menimbulkan ketidaknyamanan bahkan bencana bagi masyarakat.

Selain dari deforestasi tersebut, keanekaragaman hayati juga sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim. Persetujuan Paris yang merupakan perjanjian penting global untuk memecahkan masalah perubahan iklim menyatakan bahwa penting untuk memastikan “integritas semua ekosistem, termasuk lautan, dan perlindungan bagi keanekaragaman hayati” yang harus dilakukan oleh semua negara Pihak. Semua negara Pihak setuju mengenai hal ini, namun dalam praktiknya, Persetujuan Paris masih mengandung sedikit informasi yang dapat merinci tentang bagaimana negara-negara individu harus menjaga spesies yang terancam punah dalam menghadapi meningkatnya suhu dan berubahnya pola cuaca.

Para ilmuwan telah mengidentifikasi ribuan spesies yang telah terdampak keberadaannya oleh perubahan iklim atau terancam punah dalam waktu dekat. Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa 1 dari 6 spesies terancam punah. Hal ini merupakan

Oleh karena itu, untuk melindungi keanekaragaman hayati Indonesia yang sangat berharga bagi masyarakat dan negara, perlu dilakukan identifikasi masalah yang menimbulkan ancaman lebih lanjut terhadap keanekaragaman hayati. Masalah tersebut antara lain terkait paradigma pembangunan yang tidak sejalan dengan konservasi keanekaragaman hayati, tidak berkelanjutan, dan tidak ramah iklim; pengaturan tata ruang atau kebijakan penggunaan lahan yang lemah; manajemen kawasan lindung atau spesies yang tidak efektif; kontrol kelembagaan yang lemah; penegakan hukum yang lemah; tekanan ekonomi politik yang tinggi.

Kesadaran dan pengetahuan masyarakat dan juga pembuat kebijakan yang masih terbatas pun perlu ditingkatkan. Disini peran jurnalis untuk mengedukasi dan juga menyampaikan informasi mengenai perkembangan isu keanekaragaman hayati, deforestasi dan perubahan iklim memegang peranan yang sangat penting.

Pada bulan November 2018, negara-negara di seluruh dunia akan menghadiri Pertemuan Ke-empat belas Konferensi Para Pihak pada Konvensi Keanekaragaman Hayati di Mesir di mana kebijakan keanekaragaman hayati akan dibahas di tingkat internasional. Kegiatan ini merupakan proses penting untuk memberi tekanan lebih lanjut pada pemerintah di seluruh dunia untuk mengadopsi kebijakan yang mendukung tujuan konvensi yang bertujuan untuk melestarikan keanekaragaman hayati, menggunakan komponen keanekaragaman hayati secara berkelanjutan, dan untuk mencapai pemanfaatan sumber daya genetik yang adil dan merata.

Climate Tracker

About Climate Tracker