TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Dua tahun berlalu, gerakan Mangrove for Love dari Komunitas Earth Hour Denpasar menyisakan kisah pilu.

Sebanyak 4.500 bibit yang ditanam sejak Februari 2015 lalu, kini hanya 1% atau 45 pohon bertahan hidup. Ni Luh Tiwi Hari Cahyani yang akrab disapa Tiwi sudah habis akal.

Dahinya mengerut, kedua lesung pipinya perlahan memudar saat ditanya: “Kok ga piket lagi?”

Tiwi sebagai koordinator gerakan, dulu setiap minggu mengadakan piket pembersihan area mangrove bersama teman-teman dan melibatkan lebih dari 20 komunitas.

Apa daya, area rawa-rawa seluas 300 meter persegi di bawah Tol Bali Mandara dekat Bundaran Bandara Ngurah Rai ini kini penuh sampah.

Movement Mangrove for Love from Earth Hour Community Denpasar

“Aku dan teman-teman capek, sudah bersihin sampah yang nyangkut di bibit tiap minggu. Tapi sampah dari hulu ga habis-habis,” ujarnya saat ditemui, Sabtu (29/7/2017).

Tiwi mengatakan, gerakan Mangrove for Love libur piket sejak awal tahun 2017.

Ia mengaku percuma saja dibersihkan tapi sampah tetap datang bertubi-tubi tiap minggu.

Andri Octapianus Purba, Koordinator Earth Hour Denpasarmengaku tak memaksakan kegiatan piket ini.

“Dua tahun sudah cukup, ternyata menanam dan merawat mangrove tiap minggu nyaris tak berdampak. Harus ada solusi kongkrit mengatasi sampah dulu,” tegasnya.

Selain sampah, pengerukan sungai di daerah hulu berdampak pada pendangkalan di area tanam pohon di hilir.

Menurut Data Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP-DAS) Unda Anyar, penyebab kerusakan hutan mangrove didominasi alih fungsi lahan sekitar 193 hektare dari 1.373,5 hektare di kawasan hutan untuk kegiatan di luar sektor kehutanan.

Wilayah hutan mangrove di Kabupaten Badung, rusak berat 22,83 persen dan di Denpasar sebesar 13,13 persen.

mangrove2Titik hutan mangrove di Prapat Benoa yang rusak berat, yaitu Tanjung Benoa, Benoa, Serangan dan Pedungan.

Agus Putra Diana, Sekretaris Kelompok Nelayan Wanasari mengungkapkan, matinya pohon mangrove disebabkan oleh sampah plastik, kayu-kayu serta barang-barang buangan masyarakat daerah alur sungai di Kuta dan Legian.

Selain itu, ditambah tidak adanya penyaring sampah di Bendungan Tukad Mati yang masuk ke daerah mangrove.

Ada juga faktor sedimentasi daerah alur sungai Tukad Mati.

Hal ini menyebabkan pertumbuhan pohon lambat karena lumpur menutupi akar pohon dan juga limbah air.

Faktor lainnya seperti hewan laut seperti bentos atau kerang yang menempel pada batang pohon muda sehingga pohon mati.

“Perjuangan gerakan Mangrove for Love tidak sia-sia, buktinya masih ada yang hidup. Memang area tanam sekarang riskan diterjang sampah. Selanjutnya, gerakan ini bisa melakukan penanaman di daerah yang berbeda dan lebih sering melakukan penelitian dan mencari solusi penyelesaian yang menyebabkan matinya mangrove,” ungkapnya.

Ini tantangan berat dalam mewujudkan Sustainable Development Goals (SDG) 2030 yang memiliki tiga prioritas antara lain memberantas kemiskinan, mendorong kemakmuran, dan kesejahteraan serta menjaga lingkungan dari perubahan iklim. Berdasarkan data dari Center for International Forestry Research tahun 2012, hutan mangrove merupakan salah satu hutan terkaya karbon di kawasan tropis, yang mengandung sekitar 1023 Mg karbon per hektare.

Mangrove Planting with SMK YMA Megamendung, 2016. Photo: Forum Feduli Mangrove Bali

Mangrove Planting with SMK YMA Megamendung, 2016. Photo: Forum Feduli Mangrove Bali

Tanah dengan kandungan organik tinggi memiliki kedalaman antara 0,5 m sampai dengan lebih dari 3 m dan merupakan 49-98% simpanan karbon dalam ekosistem ini.

Diperkirakan juga bahwa deforestasi mangrove menyebabkan emisi sebesar 0,02-0,12 Pg karbon per tahun, yang setara dengan sekitar 10% emisi dari deforestasi secara global, walaupun luasnya hanya 0,7% dari seluruh kawasan hutan tropis.

Dalam konsep Agama Hindu, ada yang disebut Wana Kertih. Wana Kertih merupakan upaya untuk melestarikan hutan.

Dalam Pancawati diajarkan tentang tiga fungsi hutan hingga dapat membangun hutan yang lestari yang disebut Wana Astri yang dibagi menjadi Maha Wana (hutan sebagai sumber kehidupan), Tapa Wana (hutan sebagai tempat belajar dan spiritual), dan Sri Wana (hutan sebagai sumber rezeki).

Gerakan Mangrove for Love memegang pedoman ini melalui kegiatan bersih-bersih mangrove, edukasi mangrove tiap bulan dan menjual coklat mangrove yang dibuat oleh ibu-ibu nelayan.

Tiwi bersama kawan-kawannya berupaya untuk mengurangi angka deforestasi mangrove dengan melakukan penanaman dan perawatan berkala mencapai 4.500 pohon selama dua tahun. Namun sayang, upaya mereka dalam mengurangi emisi karbon melalui menanam mangrove dikikis perlahan oleh sampah. Pemuda di Mangrove for Love sudah memulainya, namun perlu sinergisitas antara pemuda, nelayan, warga sekitar dan pemerintah dalam penanganan sampah demi kelestarian hutan mangrove. (*)

_
Originally published at Tribun Bali

Dwi Jayanthi

About Dwi Jayanthi

Dwi is a Balinese woman passionate on youth community, environment and journalism. She graduated with a degree in chemistry.